Pages

Rabu, 05 September 2012

WANT YOU

maafkan aku fi, aku menyukai Priscilla. Aku mendekatimu supaya aku bisa kenal dengannya. Maafkan aku...”

Sudah 1 tahun berlalu tapi perkataan Jun masih teringat jelas dalam pikiranku. Setelah hubungan yang kami jalin selama 5 bulan, akhirnya ia mengaku bahwa ia berpacaran denganku hanya supaya ia bisa dekat dengan kakakku Priscilla. Pertama kali aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya aku memang merasa sangat jengkel. Aku seperti manusia bodoh, mudah di bohongi dan di sakiti.

Namun sekarang aku bukan lagi seorang perempuan berseragam putih abu-abu yang terkenal labil. Aku sudah menjadi mahasiswi dan aku harus bangkit dari keterpurukanku dalam masalah percintaan. Sedangkan kakakku Priscilla kini tengah menjalani praktek di rumah sakit Kasih Bunda yang terkenal.

Dari lahir aku tidak pernah akrab dengannya, apalagi karna masalah Jun aku jadi semakin membencinya. Dia selalu merebut pria yang dekat denganku sejak SMP. Tak terlukiskan rasa kekesalanku pada Kak Silla. Aku layaknya bom waktu yang dapat meledak kapan saja, terlebih jika menyangkut hal yang berurusan dengan kakakku.

“Fi, tolong kasih bekal makan siang ini ke kakak kamu ya. Kampus kamu kan searah sama rumah sakit Kasih Bunda.” Mama menyodorkan rantang makanan itu kepadaku. Tapi aku tidak segera mengambilnya. Melihat rantangnya saja membuat hatiku panas, apalagi memberikannya pada nenek sihir itu.

Aku melirik sekilas rantang makanan tak berdosa itu. “Ngga ah ma! Aku ga mau! Mama suruh mas Jono aja yang anterin ke kakak. Lagian aku nanti bisa telat masuk kelas kalau harus mampir dulu ke rumah sakit.” Sangkalku.

“Gak bisa Fi, mas Jono mau servis mobil. Udah nih pokoknya mama ga mau tau kamu harus kasih ini sama kakak kamu, titik!” mama menarik tanganku dan menyangkutkan genggaman rantang itu kedalam telapak tanganku dengan paksa.

Hahhh...benar-benar hari yang menyebalkan! Keluhku dalam hati.

Sesampainya dirumah sakit aku langsung memasuki ruang praktek kerja kakakku tanpa permisi. Tapi beberapa saat aku mencari-cari sosoknya rupanya ia tidak ada. Yang aku lihat hanya seorang pasien sedang berbaring di ranjang dengan matanya yang diperban.

Ia terbangun dari posisi rebahannya dan bersandar di punggu ranjang. “Dokter Silla, apa itu kau?” aksen bicaranya seperti orang barat, bahasa Indonesianya pun terdengar kurang fasih.

“Mmm...ma-maaf aku bukan Dokter Prisicilla, aku kemari hanya ingin mengantarkan bekal makan siang ini untuknya. Maaf ya, aku permisi dulu.” Jawabku seperti orang salah tingkah. Aku meletakkan rantang itu dengan kasar dan bersiap pergi dari sana. 

“wait up!” sahutnya membuatku menghentikan langkahku yang tergesa-gesa.

“what else?” aku menoleh ke arahnya dan menengok jam tangan dengan gelisah.

“who are you?” tanyanya dengan nada datar dan dingin.

“i’m Fioren, Priscil’s little sister. Sorry, i have to go now. Bye.” aku langsung mengaktifkan langkah seribu untuk mengejar waktu yang sangat mepet untuk sampai ke kampus.

Oh My God! Bisa telat nih! 

###

Dengan selamat sentosa aku sampai kelas tepat waktu, tetapi selama jam kuliah berjalan hatiku tidak tenang. Aku gelisah dan terus memikirkan pasien laki-laki yang ada di kamar praktek kakakku itu. Konyol sekali, tapi aku ingin bertemunya lagi. Rasa penasaranku ini tak dapat terbendung, dengan nekat sepulang kuliah aku pun memutuskan untuk datang ke tempat kakakku.

“eh Fi, mau kemana? Kita ga jadi nonton?” ujar Gisel. Ia memperhatikanku yang sedang merapihkan buku seperti orang kebakaran jenggot.

“aduh..jangan sekarang deh Gis! Gue ada urusan nih, besok aja ya. Byee..” seruku seraya meninggalkan kelas dan melambaikan satu tangan pada temanku Gisel.

Tiba-tiba.. BAAAMM!!

“aduduh...awhh...” erangku kesakitan. Tubuhku jatuh terduduk ke lantai dan buku-buku yang ku pegang berhambur berantakan. Tak lama aku melihat guliran tangan yang seolah berkata “mari, aku bantu kau berdiri.”

“maaf, aku tidak sengaja. Mari, aku bantu kau berdiri.” Aku meraih genggaman tangan itu lalu menyibakan debu yang menempel di celana panjangku.

“sekali lagi aku minta maaf.” Katanya lagi. Pria ini tampan sekali... pujiku dalam hati.

“ah, ya tidak apa-apa.” Ucapku sambil menorehkan senyum sekenannya. Aku baru ingat bahwa aku ingin ke tempat praktek kakakku. Ya ampun, kalau jam segini pasti ia sudah pulang. Dengan terpaksa aku mengurungkan niat untuk pergi kesana.

“ini..” Laki-laki itu mengulurkanku buku-buku yang tadi berserakan kepadaku.

Aku mengernyitkan dahi dan menatap matanya sepintas. “t-terimakasih, maaf aku sudah menabrakmu.” Pria ini...sepertinya aku mengenalnya? Aku kembali memperhatikan wajahnya dengan seksama. Memandang wajahnya-membuang pandanganku-memandang wajahnya-membuang pandanganku... Aku ingat orang ini!

“oya, aku harus buru-buru pulang untuk menyiapkan makan malam. Bye.” Aku tau orang ini, karena itu aku mencari alasan ingin “menyiapkan makan malam” lalu segera pergi dari hadapannya. Ya, walaupun sebenenarnya aku tidak bisa memasak, tapi itu satu-satunya alasan yang melintas di otakku.

Pria itu menahan aku. Ia menarik pergelangan tanganku. “jangan pergi Fioren, aku harus menjelaskan sesuatu padamu.”

Jun, apa lagi yang kau inginkan dari diriku? Tidak puaskah kau telah menyakitiku? Kenangan masa lalu seakan muncul kembali ke permukaan. Aku sungguh tidak menginginkan ini terjadi. Tapi, tak kupungkiri aku masih menyimpan rasa terhadapnya. 

Kami pergi ke suatu restauran yang begitu asri dan indah pemandangannya. Aku tidak tau tempat apa ini. Aku tidak tau kemana ia membawaku. Yang aku tau sekarang aku berada di sebuah daerah pegunungan. Sudah 3 tahun aku tidak bertemu dengannya semenjak kelas 1 SMA karena aku meminta pada mamaku untuk pindah sekolah, dan selama itu juga aku bisa lihat penampilannya berubah dari yang dahulu.

Sekarang ia terlihat lebih tinggi dan rambut spikenya kini berubah dengan poni menyamping yang menutupi sebagian keningnya. Tidak salah kalau aku pernah jatuh cinta padanya, meskipun ia hanya mempermainkanku tetapi aku tidak menyesal.

“mm.. Fio, apa kau masih memendam kebencian padaku?” tuturnya membuka pembicaraan di tengah kesunyian kami.

“hanya saat kau mengatakan bahwa kau menyukai kakakku.. hanya saat itu aku membencimu..” ucapku tanpa menatapnya dan melemparkan pandangannku pada pegunungan yang diselimuti kabut tebal.

“aku datang menemuimu karna aku ingin mengatakan suatu hal yang dulu tidak sempat aku sampaikan..” wajahnya nampak pucat pasih karna gugup. Jun menelan ludahnya dan berusaha memandangku.

“setelah aku menyatakan perasaanku pada kakakmu, ia menolakku. Dan ketika itu aku sadar bahwa aku benar-benar menyukaimu. Dulu aku tidak bersyukur telah mendapatkan wanita sepertimu. Karena itu, sekarang... aku sungguh minta maaf kepadamu Fi, aku ingin kau kembali menjadi wanita-ku.” Ia menatapku dengan wajah memelas dan kening yang berkerut sedih.

Aku tidak peduli lagi. Aku sudah melupakannya. Aku meninggalkan Jun dari tempat makan itu. Aku tidak tahan mendengar kata-katanya. Aku ingin bersama dengannya, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak menerimanya lagi.
###

Sepanjang malam aku hanya berbaring di atas tempat tidur dan membenamkan wajahku ke dalam bantal. Aku terus mengingat-ingat pria itu. Bukan Jun, tetapi pria yang ada di kamar praktek kakakku. Tapi sepertinya pria itu kenal dekat dengan kak Priscil? Karena hanya orang-orang tertentu saja yang memanggilnya dengan sebutan “Silla”. Yaa...mungkin itu pacarnya? Gumamku.

Tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu yang membuyarkan andai-andaiku. “Ren, kakak boleh masuk?” seru suara itu. “Ren” adalah panggilan masa kecilku yang diberikan oleh Kak Silla.

“ya.” Jawabku bermalasan-malasan. Kakaku yang paling tidak aku sukai mulai memasuki kamarku. Ia berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. “Ren, kamu yang anter makan siang tadi ke tempat praktek kakak ya?”

“iya.” Aku hanya menjawab sekenannya tanpa menoleh padanya.

“mmm...terimakasih ya Ren. Ini ada sesuatu untuk kamu.” ia mengeluarkan sebungkus bingkisan dari belakang tangannya. Sebuah kotak kado berwarna pink bermotif love lengkap dengan pitanya yang juga berwarna pink. Aku berpikir ini tidak mungkin hadiah dari kak Silla. Kak Silla yang melihatku tanpa reaksi akhirnya menjelaskan asal-usul tentang hadiah itu. “ini dari seseorang untuk kamu Ren. Dia ingin memberika hadiah ini untuk kamu. Coba bukalah dulu.”

Perlahan aku mulai melepas pitanya dan membuka tutup kado tersebut. Aku sungguh dibuat terkejut oleh hadiah dari orang itu! Sebuah kotak musik dengan lapisan warna emas dan putih yang berukuran sedang, serta terdapat seorang wanita dan pria yang berdansa dengan anggun di atasnya. Lalu aku memutar katup kotak musik itu... dan... melantunlah lagu klasik yang begitu indah. Lagu ini... aku kenal lagu ini! Lagu klasik favoritku! Atau bisa dibilang satu-satunya lagu klasih yang aku tau dan aku suka saat pertama kali mendengarkannya yaitu Nocturne no.2 in E-Flat Major, op.9 no.2 oleh Frédéric Chopin versi dari Vladimir Ashkenazy.

Lantunan merdu denting piano yang keluar dari speaker kotak musik itu membawaku terhanyut ke dalamnya. Hatiku terasa tentram, seperti ada ketenangan di balik lagu ini. Lagu ini mampu membuatku tersenyum dan bersedih pada waktu yang bersamaan.

“hadiah itu pemberian seseorang. Dia berharap kamu menyimpannya Ren.” Kalimat yang diucapkan kak Silla membuatku tersadar. Aku masih tidak mengerti apa maksud orang itu memberikan hadiah ini untukku, tapi yang pasti aku tidak akan menolak kado indah ini. 

“ya. Sampaikan terimakasihku kepadanya.” Hanya itu yang bisa aku katakan, untuk saat ini aku belum ingin tahu siapa yang memberikan bingkisan berharga ini.
###

Sesuai janjiku pada Gisel karna kemarin tidak bisa nonton dengannya, seusai jam kuliah kami pun pergi ke mall dan menonton film. Gisel mengajakku makan di American Grill tetapi sekarang aku sedang tidak selera makan makanan barat. Ketika kedua mataku menangkap keberadaan stand food yang menjual makanan Jepang sederahana kesukaanku Okonomiyaki, aku pun segera melesat ke sana dan membelinya.

“enak kan Gis? Makanya jangan makan makanan barat melulu! Coba makan makanan dari kebudayaan lain juga dong, apalagi Okonomiyaki dari Jepang ini.” Pamerku pada Gisel sambil terus melahap makanan itu dengan sumplit yang begitu tipis dan sedikit membuatku kerepotan.

“iya iya kali ini kamu menang Fi! Aku akuin ini enak banget.” Balas Gisel yang juga tidak berhenti memakan makan itu dan sesekali menyeruput Blue Iced-nya.

Tanpa kami sadari seseorang telah berdiri di hadapan kami. Ia terus menatapku dan tiba-tiba ia menaruh sekotak Okonomiyaki lainnya di atas mejaku. “ini, makanlah yang banyak. Okonomiyaki adalah hidupmu, bukan? Bahkan dulu saat kecil kau pernah merengek kepada kakakmu dan memarahinya karna ia tidak membelikanmu makanan itu.” lalu pria itu melangkah pergi dengan santai sambil memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana panjangnya.

Aku terbelalak dibuatnya. Bagaimana bisa orang asing seperti dia tau tentang masa kecilku?! Ketika aku terbangun dari lamunanku, aku langsung berlari mengejar ke arah pria itu tadi berjalan namun aku tidak menemukannya. Dia sepertinya sudah pergi.. tapi siapa dia? Ujarku dalam hati.

Gisel yang mengejarku mati-matian akhirnya mendapatkanku. “heh Fi cepet banget sih larinya! Aku hampir kehabisan nafas nyusul kamu, tau?!”

Siapa laki-laki tadi? Tapi sepertinya tidak asing...

Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku ingin penjelasan! Setelah mengantar Gisel kerumahnya aku segera membalikan stir mobil ke arah tempat praktek kakak ku bekerja. Aku merasa dia tau akan hal ini. Aku merasa dia punya andil atas keanehan yang terjadi padaku belakangan ini.

Dengan langkah berdebum aku menuju ke sana. Entah mengapa hatiku sekarang seperti air mendidih, aku takut emosiku meluap ketika mengetahui semuanya. Aku takut aku menyesal karena telah datang ke sini.

Akhirnya aku tiba di depan pintu kamar praktek kakak ku. Aku menyentuh gagang daun pintu itu dan bersiap mengayunkanya ke bawah, tapi niatku terhenti saat mendengar percakapan yang sedang teruntai dari dalam ruangan.

“aku sudah memberikan hadiah itu kepadanya. Ada lagi yang ingin kau sampaikan untuknya?” suara kak Silla begitu jelas terdengar. Apa hadiah yang dia maksud adalah kotak musik itu?!

“tidak perlu. I just met her, dan itu sangat menyenangkan. I saw her face was full of questions of who i am saat aku memberikan Okonomiyaki kepadanya and mengatakan kejadian masa kecilnya dulu about that food.” Ujar orang itu sambil terkekeh. Apa?!

“apa? Kau berani sekali! Why don’t you just tell the truth?” balas kak Prisicilla.

“i don’t have such courage to say.” Kali ini suara pria itu melemah dan terdengar putus asa.

“aku yakin adikku pasti akan menerimamu.” Aku tidak sabar lagi! Dengan perasaan yang kacau aku memasuki ruangan tersebut. Dan terpampanglah pemandangan yang tidak mengenakan kedua mataku. Kakaku sedang berpelukan dengan pria itu! Aku hanya berdiri mematung menyaksikannya. Air mataku bahkan tidak dapat keluar, tetapi di dalam, hatiku menjerit. Tenggorokanku tercekat sehingga tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tidak tau mengapa kejadian yang ku liat ini begitu menyakitkan padahal aku tidak mengenal pria itu.

Aku melangkah pergi dari sana dengan keadaan tubuh yang agak limbung dan kepala yang berkunang-kunang. Kaki ku melemah, seluruh syarafku seperti terhenti yang alhasil membuatku jatuh pingsan.

seseorang sepertinya menggendongku? Aku bisa merasakan nafasnya yang tersengal-sengal, di dalam pelukannya aku merasa nyaman. Aku juga bisa mendengar denyut jantungnya yang berdetak cepat, ia nampaknya begitu khawatir dengan keadaanku. Aku ingin sekali melihat orang ini, tetapi mataku tidak dapat terbuka...
###

Aku tidak tau sudah pingsan selama berapa jam, tetapi yang pasti sekarang mataku seperti menempel dan aku kesulitan membuka kelopak mataku. Namun usahaku yang gigih membuahkan hasil yang manis. Ketika mataku sudah benar-benar terbuka, yang aku lihat hanya kak Prisicilla yang duduk di sisi kiri ranjang tempat aku terbaring dan seorang pria yang sedang terlelap di sisi satunya sambil... menggengam tanganku?!

“Fioren, kamu sudah sadar?!” kak Priscil tersentak melihat aku yang sudah siuman. Ia langsung mengecek keadaanku secara seksama menggunakan stetoskopnya. “kamu baik-baik saja bukan? Maafkan kakak Ren,” sambung kakakku itu. Karena reaksi kak Priscil yang cukup menghebohkan pria itu pun terbangun dari tidurnya.

Fioren, you’re awake? are you all right?” cara pria itu mencemaskanku terasa tidak aneh bagiku. Aku justru merasa bahagia akan kekhawatirannya. Tapi, siapa dia?

“siapa kau?” aku tidak yakin suaraku akan terdengar jelas karena kerongkonganku sedikit sakit ketika bersuara.

“Fioren, dia Daniel... dia teman kakak saat di panti asuhan dulu.” Sela kak Priscill. Dia nampak pucat saat mengucapakan kata-kata itu.

“panti asuhan? Apa maksudmu?!” aku sengaja menaikan intonasi pembicaraan. Jadi selama ini Priscilla adalah kakak angkatku?

“mama dan papa berencana untuk tidak pernah mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku tidak bisa menyimpan rahasia akan siapa diriku selamanya karena kelak kau pasti menyadarinya.” Wanita yang kukenal sebagai kakak kandungku menghentikan kalimatnya sejenak, ia menghela nafas dan melanjutkannya. “saat dulu kau masih kecil sekitar umur 7 tahun kau dan orangtuamu datang ke panti asuhan untuk menjemput aku, tetapi kau begitu marah dan tidak setuju, kau berlari sampai ke tengah jalan dan sebuah mobil hampir menabrakmu, syukurlah itu tak terjadi. Dia... Daniel teman sebayaku yang menyelamatkanmu. Kau pingsan dan Daniel menggendongmu dengan tergopoh-gopoh, tapi Daniel tidak menyerah. Namun ketika kau sadar, kau menangis sangat keras begitu melihat Daniel. Sejak saat itu Daniel terpukul atas sikapmu. Ia me...” 

let me tell the rest Silla. Aku menyukaimu Fioren, karena terlalu menyukaimu akhirnya aku memutuskan pergi dari kehidupanmu. Kebetulan aku juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Amerika dan aku mengambil kesempatan itu sekaligus untuk melupakanmu. Selama 11 tahun aku tinggal di sana tetapi tidak kunjung menemukan pengganti dirimu, setiap malam aku selalu terbayang wajahmu yang ketakutan saat melihatku... aku sangat merindukanmu dan ingin bertemu tapi aku tidak mau membuatmu menangis...” Daniel menghentikan ceritanya. Ia tertunduk lurus menghadap lantai rumah sakit. Aku bisa mendengar suaranya yang serak seakan tak sanggup melanjutkan cerita masa lampaunya yang memilukan.

Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Perlahan langkah kakiku menghampiri pria yang di sapa Daniel itu. Aku tidak lagi menangis ketika melihatnya, tetapi justru aku sangat bahagia. Aku tidak tau apa yang dulu telah terjadi sehingga aku bersikap begitu kejam terhadapnya. Aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa mengingatnya. Tapi kini semua sudah jelas. Inikah sebabnya mengapa aku sangat ingin bertemu dengannya sejak pertama kali bertemu dia? Maafkan aku Daniel...

Aku menyentuh pundak laki-laki itu dan berkata. “maafkan aku Daniel... aku janji tidak akan menangis lagi karena melihatmu, justru sekarang aku sangat bahagia...”

Daniel menengadahkan kepalanya dan menatapku tak percaya. Ia berdiri dan mendekapku ke dalam pelukannya. “thank you Fioren.”
###

Keesokan harinya mama dan papa menjelaskan bahwa dulu aku sempat menderita amnesia anterograde dan retrograde secara bersamaan. Aku tidak mampu mengingat kejadian sebelum hampir tertabrak mobil dan tidak dapat mengingat kejadian setelahnya karena trauma parah. Aku tercengang mendengarnya. Karena itu kah aku sampai melukai perasaan Daniel? 

Di tengah-tengah keheningan kamarku yang hanya dihiasi oleh lantunan musik klasik pemberian dari Daniel handphone-ku berdering dengan nyaringnya. Aku melirik layar hape itu dan melihat sebuah nomer yang tidak ku kenali. 

Aku menempelkan benda kecil itu ke telinga. “siapa ini?”

“ini aku Jun, Fioren.. tolong jangan matikan telfonnya.” Pinta suara itu dari sebrang dengan nada lemah lembut.

“ada apa lagi?” jawabku sekenannya.

“aku ingin bertemu denganmu. Besok aku jemput sehabis jam kuliah.” Kemudian sambungan telfon itu terputus begitu saja. Dasar seenaknya! Kau pikir siapa dirimu?!

Pria menyebalkan! Gerutuku dalam hati.

Besok hari setelah jam kuliah berakhir aku bergegas meninggalkan ruangan supaya tidak bertemu Jun. Namun harapanku tampaknya tidak terkabul. Ia sudah menungguku di depan pintu dengan beberapa wanita yang kelihatan sedang mengaguminya. Dasar wanita-wanita bodoh! 

“aku cuma ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya Fioren. Jadi aku mohon kau jangan kabur seperti waktu itu.” ucapnya kemudian menarik pergelangan tanganku dan memasuki mobil.

“kita mau pergi kemana? Aku ada janji dengan seseorang jadi jangan lama-lama.” Ujarku ketus tanpa memandangnya.

“tidak lama, aku juga ada janji dengan seseorang kok.” Balasnya

Beberapa saat kemudian tibalah kami di sebuah... Bandara?! Aku tidak tau apa yang sedang direncanakan oleh Jun. Tetapi aku rasa ini akan sangat mengejutkan.

Tiba-tiba Jun menunjuk ke suatu arah sambil berkata. “ah itu dia! Ayo Fioren!” ia kembali menarik tanganku dengan cukup keras dan membuatku sedikit tidak nyaman namun aku tak dapat mengelaknya. Kami berjalan mendekati seseorang yang sedang berdiri tegap menghadap ke arah luar jendela transparan yang besar.

“hai Daniel!” sahut Jun dengan semangatnya. Apa yang dia katakan barusan?! Daniel?! Pria yang di panggil Jun sebagai ‘Daniel’ itu pun membelokan badannya dan perlahan berhadapan dengan aku dan Jun. Ini benar-benar suatu surprise yang tak terduga! Aku tak dapat bergerak dan mematung di samping Jun. Bagaimana mungkin?! Apa dunia sesempit ini?! Jun mengenal Daniel?!

“Fioren... k- kau? Kau kenal dengan Jun?” Daniel mengucapkan kalimatnya dengan sedikit terbata-bata. Aku rasa dia juga sama shocknya seperti aku.

Jun tertawa terbahak-bahak melihat kekikukkan yang menimpa kami. Ia tertawa dengan lepasnya dan membuatku jengkel seolah ia meledekku! “kenapa kau tertawa?!” bentakku padanya yang seketika menghentikan tawanya.

Jun meraih tangan kananku dan ia juga meraih tangan kiri Daniel. Ia meletakkan tangan Daniel di atas punggung tanganku dan menyatukannya. “tetaplah bersama sampai maut memisahkan kalian. Sudah waktunya aku untuk kembali ke Amerika. Daniel, jaga Fioren dengan baik! Itu perintahku. Selamat tinggal semuanya.” Jun, pria itu menyunggingkan seulas senyum manis sesaat sebelum meninggalkan kami berdua. Aku tidak percaya bahwa ini sungguh pertemuan terakhir antara aku dan dia. 

Aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Ia menghentikan langkahnya dan membalas pelukanku. “terimakasih untuk semuanya Fioren. Aku senang bisa mengenalmu.” Jun memegang pundakku dan mengendurkan dekapannya. Ia terus berjalan sampai aku tak dapat lagi melihatnya.

Aku rasa baru saja beberapa tetes air mata berjatuhan membasahi pipiku. Aku menghapusnya tetapi semakin banyak linangan air mata yang keluar. Lalu aku merasakan seseorang mengegam erat bahuku. Ia membelai rambutku dan menciumnya dengan lembut. “don’t cry, i’ll always be by your side 
###

2 tahun kemudian...

Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi keluargaku, terutama kakak angkatku yang sudah kuanggap seperti saudara kandung sendiri yaitu Kak Priscilla. Ia merayakan pesta pernikahannya dengan pasangan yang juga seorang dokter keturunan barat bernama Fritz, sedangkan aku menjadi pengiring pengantin untuk kakakku.

Aku berharap suatu hari nanti aku dapat menyusul kakakku bersama Daniel. Tetapi aku rasa aku harus menundanya karena Daniel sekarang sedang melanjutkan study S2-nya di Amerika. Ia berjanji setelah semua urusannya selesai kami akan segera menikah dan aku menunggu akan hal itu. Seharusnya sejak 1 minggu yang lalu dia sudah kembali ke Indonesia, namun tidak ada kabar darinya. Aku sedikit kecewa dan cemas akan sikapnya belakangan ini. Aku takut ia memiliki wanita lain di sana dan membatalkan rencananya denganku.

“hei, Fioren! Kenapa tidak ikut dengan yang lainnya untuk memperebutkan buket bunga pernikahan kakak!? Siapa tau kau yang mendapatkannya dan bisa segera menyusulku.” Ucapan kak Silla yang cukup kencang membuatku malu. Aku sebenarnya tidak ingin ikut berpartisipasi dalam hal ini, tapi yasudahlah...

Saat kak Silla menghitung dari 1 sampai 3 ia langsung melemparkan buket bunga itu ke belakang tepat ke arah para undangan yang hadir dan berebutan untuk mendapatkannya.
“will you marry me Fioren?” perkataan seseorang itu membuatku yang sedang meneguk segelas sirup stroberri tersentak.

Aku menoleh ke arah suara itu. Aku melihatnya! Daniel datang! Ia dengan buket bunga yang dilempar tadi oleh kakakku! Ia berlutut dengan satu kaki dan mempersembahkan buket bunga itu. Tanpa ragu aku meraihnya dan berkata. “yes, of course!” aku melompat kegirangan lalu memeluk Daniel. Ia memberikan kejutan yang membuatku tak bisa berkata-kata sedikitpun.

Dalam pelukan Daniel, dari kejauhan aku melihat sebuah mobil sedan hitam di depan gerbang rumah. Pria itu memakai kacamata hitam, ia tampak sedang memperhatikan kearah ku, sadar jika aku mengetahui keberadaannya ia lalu melajukan mobilnya dan pergi dari sana.

Aku dan Daniel berdansa dengan diiringi musik klasik favoritku. Kami berdansa dengan anggun layaknya patung pria dan wanita di kotak musik pemberian Daniel.

Jun, aku sangat bahagia...

Aku harap kau juga merasakan kebahagian seperti aku...

THE END


Oleh : Bella Danny Justice

Lirik Lagu Rumor - Butiran Debu


Namaku cinta ketika kita bersama

Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu
(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

WHEN THE TIME COMES




“if i tell you...
Will you listen?
Will you stay?
Will you’d be here forever?
never go away...”
(Within Temptation – Bittersweet)

Sudah lama Myca memendam perasaan cintanya kepada Michael yang juga teman sekelasnya pada masa SMA dulu, namun kesempatan bagi dia untuk mengutarakan isi hatinya tak pernah tersampaikan. Michael memanglah teman sekelas Myca, tetapi mereka jarang sekali berinteraksi atau hanya sekedar bertegur sapa. Michael adalah sosok yang pendiam dan cool sehingga ia diidamkan banyak perempuan-perempuan di sekolah, dia tampan dan paling pintar dalam bidang olahraga. Banyak wanita yang berangan-angan ingin menjadi pacarnya, dan tidak sedikit yang berani mengungkapkan perasaannya kepada Michael secara terang-terangan, tetapi hasilnya begitu mengejutkan sekaligus membuat rasa penasaran Myca memuncak akan diri seorang Michael. Laki-laki itu tidak pernah menerima salah satu pun dari mereka dan ia belum pernah berpacaran.

Myca menyadari rasa sukanya semakin mendalam ketika pemakaman ayah Michael yang meninggal karena sakit keras. Ia merasa sangat terpukul seakan ikut memikul beban kesedihan yang dialami Michael waktu itu. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak mampu menahan rasa ibanya saat melihat wajah Michael yang suram lagi di rundung duka. Momen itu adalah kenangan yang paling tidak terlupakan bagi Myca, tetapi kenyataan pahit harus ia telan bulat-bulat. Kini tak ada lagi Michael yang ia kagumi. Hari-hari di sekolah bersama, masa-masa Ujian Nasional, sampai pada acara perpisahan ke puncak... semua itu telah berlalu dan menjadi sebuah memory manis yang akan selalu terekam di kepala Myca.

Dunia nyata sudah di depan matanya. Setelah lulus SMA ia memutuskan melanjutkan kuliah di Jerman. Dan dengan jalan ini pula ia berharap dapat melupakan sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan bayangan Michael yang hadir dalam mimpinya setiap malam. 4 tahun menetap dan belajar di Jerman pun rupanya belum cukup untuk menghapus Michael dari kehidupannya secara utuh, akhirnya Myca kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar .Ing pada namanya sebagai bentuk ketuntasan ia menyelesaikan program study S1-nya.

Wanita yang memakai sweater biru tebal dan syal berwarna cream itu menghela nafas panjang sesampainya ia di bandara. “haaahh, ich komme... gumamnya menggunakan bahasa Jerman. Di sana telah menunggu seseorang yang menjemputnya, pria itu nampak gusar memperhatikan sekelilingnya, ia hanya mondar-mandir-duduk-berdiri dan menoleh ke kanan-kiri. “Hey, Myca! Sebelah sini!” teriaknya dengan lantang ketika mendapatkan sosok yang ia cari sedari tadi. Saat mendengar ada yang memanggil namanya, Myca menggiring kopernya dan menghampiri orang tersebut.

“Wer sind Sie bitte?” tanya Myca masih menggunakan bahasa Jerman. Ia heran mengapa pria ini mengetahui namanya, ia takut orang ini adalah orang jahat, itu sebabnya ia tidak berbahasa Indonesia.

Wajah pria itu terlihat kosong. Ia tidak mengerti maksud perkataan Myca. Ia menaikan satu alisnya dan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk seperti orang yang sedang berfikir. “hmmm... baiklah akan ku coba! Mein name ist Hyou, es freut mich Sie kennenzulernen.” Kemudian laki-laki itu tersenyum lebar ke arah Myca dan membuat Myca benar-benar bingung.

“tidak buruk. Tapi aku tidak mengenalmu, jadi minggirlah dari jalanku.” Myca menggandeng genggaman koper besarnya dan bersiap melangkah pergi dari sana, tapi pria itu kembali menghalanginya dan ia tidak membiarkan Myca lewat.

Wajahnya memerah menahan kesal, ia mendekatkan mukanya ke pria itu. “apa mau mu?! Jangan membuatku naik darah!” gertaknya tegas.

Hanya dengan satu kali hardikan Hyou langsung menyingkir dari hadapan Myca dan membiarkan wanita itu berjalan melewatinya. “apa kau lupa siapa aku?!” sahutnya yang seketika menghentikan langkah kaki Myca. Dengan berat hati ia menoleh ke arah pria bernama seperti orang keturunan Jepang tersebut namun tiba-tiba saja sebuah pelukan sudah melayang di tubuhnya.

“apa kau tidak ingat aku Myca?! aku Hyou! Aku teman masa kecilmu dulu!” ujar Hyou berusaha mengingatkan Myca tanpa melepas dekapannya.

Myca mendorong kasar pundak Hyou dengan kedua telapak tangannya untuk melepaskan pelukan yang menurutnya menjijikan itu. “kau sudah gila?! Aku tidak punya teman bernama Hyou!”


###
Kejadian kemarin berhasil membuat mood Myca berantakan. Baru saja ia kembali menginjakkan kakinya di Indonesia ia sudah bertemu orang gila yang mengaku teman masa kecilnya dulu. Myca berkutat dengan fikirannya semalaman dan ia yakin betul bahwa ia tidak pernah memiliki teman dengan nama Hyou. Ia memikirkan pria itu bukan karena perduli, tapi hanya ingin memastikan kalau ingatannya masih bagus. Mana mungkin aku tidak ingat dengan temanku sendiri? Kalau ia benar temanku pasti aku tidak akan lupa padanya. Katanya dalam hati.

Hari ini Myca berencana pergi ke rumah Elizabeth teman semasa SMA-nya. Ia memanaskan mesin mobil dan bersiap-siap untuk temu kangen dengan sahabatnya itu. sudah lama sekali rasanya aku pergi, seperti apa ya dia sekarang? Pikirnya.

Myca melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di otaknya sekarang banyak sekali pertanyaan yang bermunculan terlebih ketika ia melewati sekolah SMA-nya. Entah mengapa rasa rindu itu muncul... ia ingin bisa bertemu dengan Michael, harapannya masih belum berubah baik dulu maupun saat ini. Ia ingin perasaannya terbalas, walau hanya sedikit... ia berdoa agar Michael juga merasakan perasaan yang sama dengannya...

jika tidak ada lagi yang dapat ku percayai di dunia ini, ketahuilah Michael... satu yang akan selalu aku percaya bahwa hatiku tetap menyayangimu...

Pikiran Myca melayang-layang entah ke mana sampai-sampai ia tidak menyadari lampu merah yang menyala dan seseorang hendak menyebrang jalan.

Myca menginjak rem secepat yang ia bisa, ia memejamkan matanya dan berteriak histeris. “aakkkkhhhhhhhh!!!” Myca harap ini tidak terlambat, dia harap dia tidak menjadi seorang pembunuh. Perlahan ia membuka kedua matanya dan melihat seorang pria terduduk di depan mobilnya dan syukurlah tampak tanpa cacat ataupun luka. Sejenak ia terdiam, kedua tangannya yang masih memegang stir mobil bergetar dan berkeringat. Akhirnya Myca melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil dengan terburu-buru kemudian menghampiri orang itu.

Myca menjatuhkan lututnya ke atas aspal lalu menyentuh pundak pria yang hampir ia tabrak dan mengucap penuh rasa sesal. “aku sungguh minta maaf, aku tidak sengaja... tolong maafkan aku...”

Pria tersebut memalingkan wajahnya ke arah Myca dan tersenyum lembut. “tidak apa, aku tau kau tidak mungkin sengaja melakukannya. Aku baik-baik saja dan tidak luka sedikitpun kok.”

“Michael?” ucap Myca dengan pelan. Ia tidak percaya bahwa laki-laki di hadapannya sekarang adalah Michael. Ia ingat dan tidak mungkin salah! Dia Michael! Dia orang yang di sukai oleh Myca! Dan takdir kini mempertemukan mereka kembali...


###
Elizabeth terus membolak-balik majalah Cosmopolitan itu dan sesekali melirik sahabatnya Myca yang diam termenung menopang dagu di depan monitor laptop sambil melihat-lihat foto kenangan masa SMA dulu.
“kau sudah melihatnya ratusan kali, apa tidak bosan?” sindir Elizabeth, ia meletakan majalah itu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan mendekati Myca.

“apa yang akan kau lakukan ketika kau mengetahui bahwa orang yang paling kau cintai akan segera menikah?” nada datar dan tak bersemangat itu keluar dari bibir Myca. Mulutnya berkata tetapi pandangannya hanya terfokus pada foto Michael di layar laptop yang memakai baju seragam putih abu-abu penuh dengan coretan tanda tangan dan piloks warna-warni. Ya, itu adalah foto kelulusan di mana saat semua teman-teman Myca sibuk bercanda ria tetapi ia tidak bisa ikut merayakannya karna suatu hal.
“merelakannya... itu yang akan aku lakukan jika aku menjadi dirimu.” Katanya singkat dan padat. Rupanya jawaban Elizabeth memberikan reaksi terhadap Myca. Ia menutup laptop itu dan menatap Elizabeth dengan mata nanarnya. “aku serius! Ini bukan hanya sekedar orang yang paling kau cintai, tetapi sangat amat kau cintai!”

Elizabeth tidak menjawab perkataan sahabatnya tetapi ia malah merangkul Myca. Ia tau persis bagaimana perasaan sahabatnya itu akan Michael, ia tau Myca sangat menyukai Michael, tapi tak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan sebuah pelukan untuk Myca meluapkan kesedihannya.

Takdir yang menemukannya dan Michael ternyata menyimpan kejutan besar, khususnya bagi Myca. Setelah kejadian itu Myca sempat berbincang dengan Michael di sebuah cafe. Percakapan yang paling panjang yang pernah terjalin antara ia dan Michael mungkin.

“apa kabarmu? Aku dengar setelah kita lulus SMA kau langsung pergi ke Jerman untuk melanjutkan kuliah?”


“iya, kau betul, aku baru lulus dan pulang dari Jerman kemarin. Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Sekarang sedang sibuk apa?”


“aku juga sangat baik. Yaaa... seperti biasa, aku sibuk bekerja dan sedang mempersiapkan acara pernikahan.”


“oya? Maaf aku tidak bisa lama-lama, ibuku pasti mengomel kalau aku terlalu lama berpergian. Aku pulang dulu ya. Bye”


“tunggu Myca! boleh aku tau nomer telfon mu?”


“ya, tentu.”

Wanita itu berfikir apa spesialnya sebuah nomer telfon? Lagipula Michael pasti tidak akan menghubunginya. Ya, karena dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan yang ia cintai. Sakit sekali hati Myca begitu mendengar ucapan itu terlontar dari mulut Michael. Disaat harapannya terkabul tetapi ia harus menelan kenyataan yang memilukan... rasanya perih seperti tertusuk duri bunga mawar yang indah namun mampu melukai seseorang yang menyentuhnya.

Ia menyesal mengharapkan untuk bertemu lagi dengan Michael. Ia menyesal dapat melihat Michael kembali. Jika bisa ia memutar waktu, ia ingin tetap berada di Jerman dan tidak kembali untuk selamanya, membiarkan perasaannya tersiksa setiap hari dari pada harus mengetahui berita tak mengenakkan ini.


###
Benda kecil yang terus berdering itu memaksa Myca yang masih terlelap untuk bangun dari tidurnya. Tangannya meraba-raba pada meja di samping ranjang dan meraih benda tersebut. Myca mengusap-usap matanya beberapa kali lalu membukanya. Ia melihat sebuah pesan dari nomer tak di kenal bertuliskan :

Guten Morgen Myca, ini aku Michael, aku ingin mengajakmu keluar malam ini, apa kau ada waktu?

Saking terkejutnya Myca, ia langsung bangun dari posisi tidurnya dan membalas pesan dari Michael :

Aku tidak tau ternyata kau bisa bahasa Jerman juga haha baiklah, aku bisa. Jam berapa dan di mana tempatnya?

Beberapa saat kemudian Michael membalasnya :

Tidak, aku tidak bisa bahasa Jerman, hanya itu yang aku tau hahaha jam 7 di cafe tempat waktu itu kita bertemu, ok?

Myca membalas pesan itu lagi :

Ok. Baiklah, bis später 

Yang ada di dalam pikiran Myca sekarang adalah “Berpenampilan sebaik mungkin!” anggap saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Michael karena setelah acara makan malam ini pasti tidak ada lagi kesempatan ia untuk berjumpa dengan pria pujaannya itu. Michael pasti akan sibuk dengan keluarga barunya, istri dan anak-anaknya. Ah, entah mengapa selalu saja hal negative tentang Michael yang terfikirkan olehku. Gumamnya.

Myca tau ini waktunya dia untuk berhenti berharap, ia tidak boleh lagi membuang-buang waktunya untuk Michael yang bahkan tidak mengerti perasaannya sedikitpun. Sepertinya ungkapan “tidak semua impian menjadi kenyataan” memang benar, buktinya ini lah yang sedang terjadi kepada Myca. Hatinya belum sanggup merelakan Michael namun ia harus bisa menerima takdir yang telah digariskan.

Pukul 5 sore ia sudah bersiap-siap dan berdandan secantik mungkin untuk tampil di depan Michael. Pilihannya jatuh pada dress berwarna hitam di atas lutut dengan lengan pendek dan aksen bunga mawar di bagian pinggang. Myca mulai memoles wajahnya dengan foundation dan bedak tipis, ia menambahkan blush on dan lipstick berwarna pink cerah serta tidak lupa membubuhkan eyeshadow glitter pada kelopak matanya juga mascara, sedangkan untuk rambut, ia membiarkannya terurai alami.

Voila! Persiapan kini sudah selesai. Sentuhan terakhir adalah sepatu. Myca memakai heels berwarna hitam dengan bahan suede agar terlihat sederhana. Ia berjalan ke arah cermin besar di dalam kamarnya. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya melihat bayangan seorang perempuan yang begitu cantik di dalam cermin itu. Myca tersenyum geli sambil sesekali merapihkan rambutnya. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi klakson dan ia segera turun ke lantai bawah.

“m-maaf membuatmu menunggu.” Ucap Myca sedikit gugup. Michael nampak sangat tampan malam itu, dengan penampilan yang sederhana namun tetap menarik. Ia mengenakan Jersey team bola favoritnya yaitu Barcelona dan celana jeans hitam. Myca rasa akan sulit untuk bisa benar-benar merelakan pria itu seperti yang disarankan oleh Elizabeth.

“tidak apa. Kau cantik sekali Myca, ayo kita berangkat.” Pria itu tersenyum manis lalu membukakan pintu mobil untuk Myca.

Astaga, bagaimana mungkin aku bisa melupakan Michael kalau dia bersikap seperti ini kepadaku?

Di perjalanan menuju restaurant tidak ada di antara mereka berdua yang berani memulai pembicaraan. Baik Myca dan Michael keduanya nampak gugup dan malu-malu untuk membuka mulut. Untunglah jarak restaurant itu tidak terlalu jauh jadi mereka tidak perlu berlama-lama larut dalam keheningan yang membosankan.

Begitu memasuki tempat makan itu Myca dan Michael langsung disambut oleh seorang pelayan yang membawa mereka ke bangku spesial yang telah di pesan Michael. Pelayan itu tersenyum ramah dan mengulurkan daftar menu kepada mereka.

“kau mau pesan apa?” tanya Michael.

“sama sepertimu saja, lagipula aku baru kedua kalinya ke sini, sepertinya kau lebih tau makanan mana yang enak.” Ujar Myca lalu menyerahkan kembali daftar menu pada sang pelayan.

Michael tidak menjawabnya lagi, ia hanya mengedipkan satu matanya memberi tanda kepada pelayan itu untuk meninggalkan mereka berdua. “baiklah, sebelum makanannya datang aku ingin berbicara dulu denganmu.” Kata pria itu sambil mengambil posisi duduk serius.

“hal apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myca tanpa basa-basi.

Michael tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak kemudian berkata. “aku menyukaimu.”

Oh takdir! Tolong jangan permainkan aku! “kau pasti bergurau.” Kata Myca cuek.

Tidak lama datang seorang pelayan yang membawakan minuman dan makanan untuk keduanya.

“silahkan, selamat menikmati.” Ucapnya. Pelayan itu tersenyum dan segera pergi dari sana.

Michael memandang wajah Myca. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam. “aku serius Myca.” Entah kenapa mendengar pengakuan Michael hati Myca justru merasa sakit. Ia merasa di tipu.

“bagaimana dengan persiapan pernikahannya?” Myca sengaja mengalihkan pembicaraan, ia harap Michael akan mengganti topik pembicaraan mereka.

“ohh soal itu, sudah 80%. Aku harap kau bisa datang menghadirinya.” betul saja! Sepertinya memang Myca harus mengakhiri perasaannya selama ini terhadap Michael.

Bagaimana kau bisa berkata seperti itu padahal kau akan menikah dengan orang yang kau cintai?

Myca beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun. Ia meninggalkan Michael sendiri di restaurant itu. Ia tidak tahan mengahadapi semua cobaan yang datang bertubi-tubi ke dalam hidupnya. Rasanya ingin ia berkata “Dunia, mengapa kau begitu kejam? Tidak adakah belas kasihan untukku Tuhan? Berikanlah aku sedikit kebahagiaan...”


###
“bagaimana kau bisa tau rumahku?! Untuk apa kau kesini?!” pria yang menemui Myca saat di bandara waktu itu datang ke rumahnya. Ia sungguh terkejut bukan main.

“kan sudah ku bilang, aku ini teman kecilmu! Aku Hyou sahabatmu saat kau tinggal di Jepang ketika berumur 5 tahun Myca!” Myca terbelalak mendengar perkataan Hyou yang mengaku sebagai sahabat kecilnya. Ia baru ingat, ia benar-benar lupa! Sudah 16 tahun tetapi pria itu masih ingat dengannya.

Aku tidak menyangka ada orang dengan ingatan yang tajam seperti dia...

Hyou? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang selalu menggendongnya ketika terjatuh dari sepeda? Apa dia benar Hyou teman kecilnya dulu yang memberikan topi rajutnya saat telinga Myca mulai membeku karena musim dingin di Tokyo? Apa dia benar Hyou yang dulu pernah menyatakan cinta padanya saat musim semi di bawa pohon ceri yang bermekaran?

ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya! Jahat sekali aku terhadapnya..

“Hyou?” ucap Myca, suaranya yang sangat pelan hampir tak terdengar oleh Hyou. Ia masih belum percaya bahwa pria yang ada di depan matanya benar-benar Hyou teman kecilnya saat berada di Jepang dulu.

Hyou melangkah pasti menghampiri Myca. Tanpa harus di jelaskan ia sudah tau bahwa gadis itu sekarang sedang terkejut bukan kepalang. Hyou menyentuh tangan Myca, ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. “aku pindah ke Indonesia sejak kau pergi dari Tokyo, aku selalu mengikutimu selama ini, tetapi aku sengaja tidak mengikutimu ke Jerman karena aku tau kepergianmu ke sana karena seseorang yang sangat kau cintai Myca.”

“Hyou maafkan aku..” tangis Myca yang tersedu-sedu mulai terdengar, ia merasa sangat sedih saat ini. Ia butuh seseorang yang mampu meredakan kepedihan hatinya akan Michael. Ia butuh seseorang! Refleks ia langsung memeluk Hyou dengan erat, tangisnya pecah seketika itu juga, ia tidak bisa lagi menanggung beban ini sendirian.

“menangislah Myca, aku akan selalu ada untukmu... aku akan menemani saat-saat suka dan duka mu, aku tercipta untuk menemanimu... hanya saja aku kurang beruntung karena aku tidak di takdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Kau harus berusaha agar mendapatkan apa yang kau inginkan, jangan menyerah sedikitpun. Aku yakin nanti akan tiba waktunya bagimu merasakan kebahagiaan..” dalam pelukannya itu Hyou menepuk-nepuk punggung Myca dengan lembut. Ia mencoba menenangkan gadis itu seperti seorang adik, ia sadar perasaanya terhadap Myca tidak akan pernah terbalas. Ia tau hanya ada satu orang yang ada di hati gadis itu.

Kata-kata Hyou membuat Myca sedikit lebih baik. Beberapa saat kemudian ia mulai tenang dan kembali duduk di sofa. “terimakasih Hyou, maaf aku sudah berbuat kasar padamu waktu di bandara.” Myca menghapus air matanya yang sesekali masih mengalir di pipinya dengan punggung tangannya.

Hyou mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu mengusap tangis Myca. “tidak apa, aku tau kau pasti akan lupa karena itu sudah lama sekali. Jadi aku memaafkanmu.” Pria itu tersenyum begitu lebar sehingga matanya yang kecil hanya terlihat seperti garis. Kalau saja ada keajaiban, Myca berharap ia tidak pernah jatuh cinta kepada Michael, dan ia berharap Hyou lah orang yang ia cintai. Jika keadaannya seperti itu, pasti semua akan terasa lebih mudah, tidak menyakitkan seperti yang ia rasakan sekarang.


###
Selama 1 minggu ini sudah kali ke 5 sms dari Michael berdatangan tetapi Myca tidak lekas membalasnya. Bagaimana bisa ia menahan rasa sakit untuk membalas pesan dari pria yang sangat ia cintai itu? hari ini saja pagi-pagi sekali ia sudah mengirim sebuah text :

Myca, acaraku sudah 100% selesai. Aku ingin kau datang hari ini jam 6.30 pm di Hotel Indonesia. Maaf karena aku tidak sempat memberi undangannya karena terlalu sibuk, kau tinggal sebutkan saja namamu kepada pendaftar tamu, dia akan mengizinkanmu masuk. I’ll be waiting~

Apa Michael sengaja? Atau dia terlalu bodoh? Pesan yang ia kirim sungguh menyiksa batin Myca. Hatinya perih teriris sembilu. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Apa ia bisa menghadiri acara pernikahan pria itu? apa ia bisa merelakan semua ini dengan tulus ikhlas? Apa ia berani berhenti dari penantiannya selama ini? Apa seperti ini kah ending kisah cintanya? Ia menghadiri pesta pernikahan seseorang yang sangat amat ia cintai, memberi mereka selamat dan kecupan di pipi kanan dan kiri untuk pengantin wanita, apa ia bisa melakukan itu semua?

Tekad Myca sudah bulat. Ia meyakinkan dirinya untuk yang terakhir kali bahwa ia “BISA” melewati semua ini. Ya, hanya 1 hari ini dan semuanya akan berakhir. Ia tidak akan lagi tersiksa oleh penantiannya yang hanya membuang-buang waktu. Myca meminta Hyou untuk menemaninya pergi ke acara pernikahan Michael. Hyou dengan senang hati menerima ajakan sahabatnya itu, ia tau Michael adalah laki-laki yang sangat di cintai Myca setelah wanita tersebut menceritakan semuanya. Ia paham dan sangat mengerti perasaan Myca yang sedang terguncang.

Jam 6.40 mereka sampai di sebuah ruangan ballroom megah yang bergaya classic. Design pesta pernikahan yang sangat anggun menurut Myca. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dan interior-interior mewah yang menghiasi gemerlapnya pesta tersebut. Warna gold dan merah yang indah tampaknya membuat Myca terhipnotis sampai-sampai ia lupa akan keberadaan Hyou yang mengamatinya sambil terkekeh.

“kau nampak begitu takjub. Aku pun bisa mengadakan yang seperti ini jika kau memintanya padaku.” Kata Hyou yang diakhiri canda tawanya.

Myca mendengus kesal, ia mempercepat langkahnya menjauhi Hyou dan berniat untuk mengambil segelas minuman yang tersedia di sebuah meja besar namun sepatu haknya menginjak gaun Myca yang terjuntai panjang dan keseimbangannya pun goyah. Ia sudah bersiap untuk menahan malu, ia tau pasti ia akan terjatuh. Tetapi Hyou bergerak cepat dan menahan tubuh Myca.

“kau mungkin bukan jodohku, tapi kau tidak bisa lepas dariku Myca.” Hyou memandang gadis itu beberapa saat. Ia rasa ia sudah gila karena ia benar-benar mencintai orang yang tidak bisa ia miliki.

Myca tidak merespon perkataan Hyou, ia hanya terdiam dan kembali berjalan menuju stand ice-cream di sana. Kalau saja keajaiban itu ada, aku pasti memilihmu Hyou! Tetapi aku tidak bisa. Maafkan aku...

Sudah 20 menit Myca menikmati pesta pernikahan itu namun ia tidak menangkap sosok Michael dan pengantin wanitanya. Matanya masih mencari-cari keberadaan Michael, sedangkan Hyou, ia menghilang entah kemana, Myca pun jadi kesal dibuatnya. Lalu terdengar suara seseorang yang begitu ia kenal memanggil namanya. “Myca, maaf membuatmu menunggu begitu lama. Aku terjebak macet saat menuju ke sini.” Dia datang! Michael terlihat seperti orang yang habis mengikuti lomba lari, ia mengucap dengan nafas yang tersengal-sengal dan nampak sedikit berkeringat karena kelelahan. Tetapi Myca menemukan sedikit keganjilan.

“lalu dimana mempelai wanitmu? Kau tidak pergi bersamanya?” tanya Myca heran.

Michael menatap wanita itu dengan ekspresi aneh. Ia mengerutkan dahinya dan melangkah mendekati Myca. “mempelai wanita? Apa maksudmu Myca? aku menyuruhmu datang ke sini untuk menunjukan hasil kerjaku sebagai Event Organizer suatu acara, dan aku di percayai menangani proyek ini.” jelas Michael.

“jadi ini bukan acara pernikahanmu?!” tanya Myca masih tidak percaya. Ia speechless tak dapat berkata apa pun selain meragukan penjelasan Michael.

“pernikahan?” katanya kebingungan, tak lama Michael tertawa terbahak-bahak. Ia mengerti sekarang mengapa waktu itu Myca beralasan ingin cepat pulang saat pertama kali mereka berjumpa dan mengapa Myca meninggalkannya saat mereka dinner. Michael memperhatikan wajah wanita itu merah padam menahan malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya lagi, Michael menyukai Myca!

Pria itu menyentuh dagu Myca dan mengangkat perlahan wajahnya yang tertunduk pada karpet merah tempat mereka berdiri. “Myca, dari dulu... aku menyukaimu sejak dulu. Aku ingin kau tau semua ini, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku selamanya dari mu dan menghindarimu. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku seperti waktu kita SMA. Dulu aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku menyukaimu, tetapi sekarang aku ingin kau mengetahuinya... aku mencintaimu Myca, kau wanita yang sangat aku cintai. Aku beruntung bisa bertemu lagi denganmu, karena itu aku tidak akan membuang kesempatan ini. Aku tidak mau lagi bertindak bodoh...” kata-kata Michael terhenti ketika Myca melayangkan pelukannya. Wanita itu menangis, tetapi Michael dapat merasakan bahwa itu adalah tangis kebahagiaan, itu adalah tangis dari penantiannya yang begitu mengharu biru.

Michael melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Myca, sedangkan Myca merangkul leher Michael. Pelukan itu terasa amat nyaman bagi Myca, ini lah yang ia dambakan... ini lah yang ia harapkan... ini lah yang ia impikan selama ini... dan ini lah doanya...

Tuhan maafkan aku yang sempat meragukanmu, ternyata selama ini kau begitu baik terhadapku... mengetahui bahwa ia juga mencintaiku adalah sebuah anugrah yang tak ternilai... sekarang aku tau mengapa Kau memberikan cobaan-cobaan itu kepadaku... aku sadar semua indah pada waktuNya...

Hyou.. ia mengintip kemesraan di antara Michael dan Myca dari balik dinding itu. Sekarang ia bisa bernafas lega karena Myca akhirnya mendapati apa yang ia inginkan. Kini tugasnya untuk menemani Myca telah selesai, ia mempercayakan wanita itu dalam tangan Michael. Ia yakin Michael dapat menjaga Myca sebaik ia dulu pernah menjaganya.


“Myca, tugasku menemanimu sudah selesai, sekarang aku bisa kembali ke Jepang dengan tenang. Berbahagialah dengan orang yang kau cintai. Aku akan selalu mengingatmu dan aku harap kau juga tidak akan pernah melupakanku lagi kalau suatu saat aku kembali hehe”

With Love,
Izukama Hyou

Myca meneteskan air mata ketika membaca baris pertama surat dari Hyou itu, namun kelanjutannya ia tertawa kecil sambil tersenyum mengingat pertemuannya dulu saat di bandara. “Hyou-san, arigatou gozaimasu.” Ucapnya pelan.

END


Oleh : Bella Danny Justice