Pages

Rabu, 05 September 2012

EVERLASTING




Cerpen Cinta Sedih
Saat pertama kali gadis itu menginjakan kakinya dirumahku,  aku sudah menyukainya. Tak peduli bahwa ia adik angkatku, aku sangat menyukainya. Wajah lugunya serta senyum polos yang selalu ia tunjukkan membuat perasaan ini semakin tidak karuan. Bertahun-tahun aku menahan perasaanku karena aku tau mama dan papaku tidak akan pernah mengizinkannya sampai kapanpun.
Avia, gadis kecil yang dibawa orangtuaku dari sebuah panti asuhan itu kini tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik dan lembut. Dari awal, aku tidak pernah bersikap baik kepadanya, aku tidak pernah menjawab ketika ia bertanya, aku tidak pernah menunggunya untuk berangkat ke sekolah bersama, dan aku tidak pernah menghiraukan keberadaannya...aku lakukan semua itu supaya aku tidak merasa bersalah karna telah menyukai adik angkatku sendiri.
Bahkan Raina, teman dekatku sejak SD menyalahkan perasaanku. Ia bilang bahwa aku rupayanya sudah gila. Ia bilang kenapa tidak orang lain dan kenapa harus adik angkatku. Aku hargai setiap perkataannya karena dia adalah teman baik ku, tapi aku bisa berkata apa? Inilah aku! Hatiku tidak akan berubah walau seluruh orang di dunia berkata cintaku ini mustahil!

“I’m sick of this life, i just wanna scream how could this happen to me...”
Simple Plan – Untitled


“kakak! Ka Niko! Ditunggu mama sama papa untuk makan malam dibawah. Cepetan ya kak!” Seru Via yang membuyarkan lamunanku saat itu.
Aku tidak menjawabnya, aku malah pergi ke rumah Raina dan makan malam disana. Orangtua Raina tidak keberatan harus semeja makan denganku karena mereka juga kenal dekat dengan keluargaku dan aku sering sekali berkunjung. Setiap hatiku sedang gundah gulana aku selalu menceritakannya pada Rai.
“gue ga tau ko mau kasih nasehat ke elo kaya gimana lagi...” ucap Raina merebahkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Aku mendekatinya dan menarik bantal itu dari wajahnya. “ayolah Rai! Gue mohon! Gue bener-bener suka sama Via. Gue juga ga tau kenapa Tuhan harus menakdirkan dia jadi ade angkat gue. Gue bingung banget Rai!”
“ini nasehat terakhir ko. Ada 2 pilihan. Lo mau nyatain perasaan lo atau mundur dan merelakan semuanya.” Yang dikatakan Raina memang benar. Aku tidak punya pilihan lain. Menunggu terlalu lama membuatku jenuh dan lelah. Aku hanya punya 2 pilihan itu dan harus segera ku putuskan yang mana yang akan aku ambil.
“gue nginep dirumah lo dulu ya Rai malam ini. Gue mau mikirin keputusannya.” Ujarku lalu menarik selimut dan bersiap tidur.
Tiba-tiba Raina mendorong punggungku dengan kakinya hingga aku terjatuh dari tempat tidurnya. “lo gila ko?! Tidur dibawah! Yang bener aja masa tidur bareng sama gue!” omel gadis itu. Terkadang aku berfikir dia sangat lucu kalau sedang marah-marah seperti itu. Aku tertawa dalam hati dan menuruti perkataannya.
“iya! Kejam banget sih lo kaya Belanda!” ledekku.
“biarin aja! Daripada elo bodoh banget ga pernah nyadar!” setelah membalas ledekanku Raina langsung menutupi dirinya dengan selimut. Apa maksud dia? Ngga pernah nyadar? Apa dia ngeledek aku yang ga pernah nyadar kalau menyukai Via adalah suatu kemustahilan?
Keesokannya aku berangkat sekolah bersama dengan Rai. Kami pergi dengan kendaraan umum. Menunggu lampu merah untuk menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Aku menggandeng tangan Rai ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan menyebrang melalui zebra-cross. Namun Raina menghempaskan tanganku ke udara. Ia melepaskan genggamanku dan berlari. Saat aku akan mengejarnya lampu itu berubah warna, kulihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi tapi Rai tidak menyadarinya sampai truk itu mengklaksoninya.
Aku berteriak sekencang-kencangnya. “RAIINAAAAAA!!!”

“She’s lost in the darkness, fading away..I’m still around here screaming her name...”
*Within Temptation – Lost*
Syukurlah...syukurlah aku berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, aku tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap kaki dan tanganku membeku, aku masih terus mendekapnya erat. Dan aku bisa lihat ketakutan yang mendalam dimatanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi kami.
“udah Rai, udah ngga apa-apa. Gue berhasil menyelematkan lo. Lo ga perlu takut lagi Rai.” Ucapku sambil membelai rambutnya.
“t-terimakasih Ko...terimakasih.” jawabnya terbata-bata. Raina memegang tanganku dengan kencang, dan ia menarik-narik seragamku. Untuk itu aku berinisiatif mengantarnya kerumah dan menyuruhnya beristirahat.
Setelah kejadian itu aku merasa aneh pada diriku sendiri. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang sekarang aku prioritaskan adalah mengungkapkan perasaanku pada Avia. Malam harinya aku teringat akan nasihat Rai, bahwa aku mempunyai 2 pilihan. Dan disaat aku ingin mengutarakan perasaanku, kenapa sekarang aku merasa ragu akan hatiku, kenapa aku ragu dengan perasaan yang sudah lama aku pendam ini? Aku terus memikirkannya. Akhirnya ku putuskan untuk tetap mengatakannya pada Via. Kemudian aku pun mendatangi kamarnya.
“ka Niko, ada apa? Tumben kakak ke kamar aku?” ujarnya yang sedang memegang buku pelajaran Biologi. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya.
“Via, tolong dengerin kakak...karna kakak gak akan mengulangnya.” Kataku tak berani menatap adik angkatku itu.
“iya, Via pasti dengerin kakak. Kenapa ka? Ada apa?” jawabnya penuh rasa penasaran.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menelan ludah. “aku sayang sama kamu Via.”
“aku juga sayang kakak. Aku kira selama ini kakak benci sama aku. Tapi aku lega ternyata kakak sayang sama aku.” Avia menjawabnya dengan mudah sambil menorehkan senyum polos diwajah cantiknya kemudian memelukku.
Aku kembali menarik nafas dan berusaha menjelaskan bahwa perasaanku ini lebih dari rasa sayang seorang adik-kakak. “kakak sayang kamu sebagai seorang wanita Via! Aku cinta kamu!” Tampak wajah Avia begitu kaget mendengar pernyataanku. Ia tak menjawab sepatah kata pun. Ia melepaskan pelukannya. Ia tidak menoleh ke arahku sama sekali. Meskipun aku telah ditolak, tapi aku merasa beban yang ku pikul selama ini telah sirna. Walaupun aku tidak langsung bisa melupakan perasaan yang sudah sangat lama ku pendam tapi aku yakin perlahan waktu akan mengembalikan keadaan seperti semula. 

“Nobody said it was easy..no one ever said it would be this hard, Oh take me back to the start...”
*Coldplay – Scientist*

            Keseharianku berjalan seperti biasanya, untunglah ada Raina yang selalu bersama denganku. Sejak kejadian itu Via tidak berubah, ia tetap menegurku dengan senyum cerianya. Aku sungguh bersyukur dia tidak marah terhadapku dan kami pun perlahan menjalin hubungan selayaknya adik-kakak. Dan tahap demi tahap, perasaanku terhadapnya memudar. Mungkin kalau aku menceritakan kisah konyolku ini kepada semua orang mereka pasti akan berkata “yang kau alami itu Cinta Buta.” Jika kembali ke masa lalu aku jadi geli sendiri mengingat bagaimana bisa aku menyukai adik angkatku.
            Namun aku tak sependapat bahwa Cinta itu Buta. Cinta tetaplah cinta. Cinta itu suci. Terkadang manusia seperti akulah yang tidak pandai melihat ataupun menyadari yang sedang ku alami benar cinta atau hanya perasaan ingin memiliki semata. Karna jika berbicara tentang cinta, berarti kita juga membicarakan 2 orang yang memiliki perasaan yang sama. Aku cinta kamu, dan kamu cinta aku. Dan cinta yang pernah aku miliki dulu adalah “Aku cinta kamu, tetapi kamu tidak cinta aku.”
            “hayooo!! Ngelamun aja sih ko!” ternyata Raina yang mengagetkanku dari belakang. Tanpa rasa bersalah ia malah mencubit pipiku dan cengengesan.
            “awhh.. sakit tau Rai!” keluhku sambil mengusap pipiku yang merah karena dicubit gadis satu itu.
            “masih ada rasa yang tertinggal sama adik angkat?” ucapan Raina membuatku tak dapat bergeming. Keheningan menghiasi kami saat itu. Tapi tindakan Raina lebih-lebih membuatku terkejut. Ia mendekatiku dan memelukku. Aku...mataku seperti hampir mau copot karna saking kagetnya. Aku tak bisa begerak, tubuhku mati kukuh, namun aku merasakan sesuatu...suatu kehangatan yang mampu menenangkan hatiku...
            “jangan menderita karna dia, karna banyak orang lain yang berlomba untuk menyayangi elo Ko, termasuk gue...” setelah mengutarakan kalimat itu lalu ia pergi, sedangkan aku...aku tak dapat mengatakan apa pun...aku tak tau mengapa jika berada didekatnya aku hanya bisa terdiam.
            Ya, aku memang masih menyukai Avia. Tapi, aku kira seseorang baru saja menghapus perasaan itu. Seseorang yang tidak kuduga... bahwa ia mampu melakukan hal besar terhadap diriku. Aku tidak peka selama ini. Maafkan aku Rai...

Aku ingin kau selalu ada untukku...
Yah, walaupun tanpa ku katakan kau pasti selalu menemaniku...
Namun kali ini berbeda,  aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi...
Aku tidak benar-benar menyukai Avia, dulu itu hanya perasaanku sesaat karna kau pergi meninggalkan aku tanpa kabar sedikitpun...

“How did we lose our way, how did we fall apart...”
*All 4 One – Smile Like Monalisa*

                “Rai! Rai mau kemana! Rai kan tau Niko ga punya temen selain Rai!”
            “maafin aku Ko, tapi aku harus tinggalin kamu lagi. Semua ini aku lakukan supaya kamu menyadari siapa yang benar-benar kamu cintai. Da-dah Niko...”
            Suara itu...wajah Raina...tapi mau pergi kemana lagi dia?!
            “jangan pergi lagi Raiiiii !!!” jeritku yang terbangun tengah malam dari mimpi yang begitu menyesakkan dadaku. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu? Pikirku tak percaya. Ku tengok handphone yang saat itu bergetar. Ternyata sms dari Raina.

From : Raina Denniele
Hei, ko. Maaf membangunkanmu tengah malam, tapi aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong datanglah kerumahku nanti pagi, aku ingin mengucapkan satu permintaan.


            Ketika aku membalas sms-nya, tidak ada laporan terkirim sama sekali. Berulang-ulang aku mengirimnya hasilnya tetap sama. Karena penasaran, akhirnya aku menelfonnya...tapi nomernya tidak aktif. Aku benar-benar bingung. Permainan apa lagi ini Rai?! Gumamku.
            Sial, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karna perempuan merepotkan itu. Aku terus menggerutu sepanjang perjalan kerumah Raina. Saat mengendarai mobil tiba-tiba melintas seekor kucing yang membuatku terhentak kaget dan aku langsung menginjak rem. Aku keluar dari mobil dan syukurlah aku tidak menabrak binatang itu, ketika berbalik menuju mobil aku kembali dibuat terkejut... Raina?!
            “Rai, kok lo bisa disini? Bikin gue kaget aja!” ucapku agak sedikit terkejut.
            “ah, kebetulan aja ko. Gue abis kerumah seseorang.” Tumben sekali dia tidak cerwet. Hari ini Rai kelihatan agak aneh.
            “ayo gue anter lo pulang Rai.” Kataku menggandeng tangan Raina.
            “jangan sekarang ko, gue mau pergi ke suatu tempat sama lo, boleh kan?” pintanya.
                “karna sekarang hari minggu kayanya boleh juga sekali-kali kita jalan, lagipula udah lama kita ga jalan bareng. Okedeh, lo mau kemana? Gue anter.” Tuturku yang memasuki mobil bersama Rai.
                “gue...mau ke taman hiburan ko.”
                “wah seru tuh! Gue juga udah lama ga kesana, terakhir kali sama lo pas kita umur 10 tahun hehe.” Lalu aku langsung menancap gas menuju salah satu taman hiburan di daerah Jakarta Utara. Kami  menaiki semua wahan, mulai dari yang kekanak-kanakan seperti gajah terbang, bom-bom car, istana boneka, sampai yang menyeramkan seperti halilintar, tornado, dan kora-kora. Sudah lama sekali aku tidak ketempat ini, dan aku merasa sangat nyaman...nyaman berada di dekat Rai.

“All my agony fades away when you hold me in your embrace...”
*Within Temptation – All I Need*
           
            Wahana terakhir yang kami naiki adalah Bianglala. Jujur, sebenarnya aku paling takut naik wahan ini dari dulu. Tetapi aku bukan anak kecil lagi, jadi aku memberanikan diri agar Raina tidak menganggapku pengecut.
            “lo ga takut lagi ko?”
            “enggaklah! Gue kan udah gede! Emangnya gue masih anak-anak!”
            Raina tertawa kecil, lalu ia berkata. “baguslah kalau begitu. Hari ini gue seneng banget ko, terimakasih ya..” Ia menghampiriku dan memelukku. Namun sekarang aku tidak hanya terdiam, aku membalas pelukannya. Dengan erat aku mendekap gadis itu. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis ketika ia melepas pelukannya.
            “lo masih inget kata-kata gue kan ko? Jangan menangis untuk orang yang gak benar-benar lo cintai. Jangan menderita karena seseorang yang lo cintai meninggalkan lo. Karena gue akan selalu ada untuk lo, sampai kapanpun...”
            Sungguh, aku tidak dapat menahan tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir dipipiku. Aku merasa sedih saat Raina mengatakan hal itu. Kemudian ia kembali memelukku, lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Ini adalah momen yang tidak akan kulupakan.
            Setelah puas seharian jalan bersama Raina aku pun mengantarkannya pulang, tapi aku tidak sampai ke rumahnya, hanya di depan gapura perumahan karna aku sudah keburu cape dan ingin cepat-cepat berbaring ditempat tidur. Sesampainya dirumah aku mendapati orangtuaku dan Avia dengan wajah gelisah sedang duduk diruang keluarga. Begitu melihat aku sudah pulang, mama langsung menghampiriku.
            “ya ampun Niko! Kamu kemana aja sih dari pagi?! Mama telfonin tapi nomer kamu gak aktif! Kamu tuh habis dari mana?!” yang namanya mama kalo udah ngomong ga ada titik komanya. Aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu.
            “aku abis...” belum selesai menjawab Avia menyela pembicaraanku dengan mama.
            “kakak Rai meninggal kak. Dia kecelakaan tertabrak Truk tadi pagi.” Sela adikku.
            Gelap, dunia ini seakan berubah kelam bagiku. Bagaimana mungkin?! Tadi pagi, hah?! Sedangkan Raina baru saja menghabiskan waktu bersama denganku! Mereka pasti salah! Mereka pasti membohongiku! Aku jatuh tersungkur, membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. 
Rai, mana mungkin...mana mungkin ini terjadi kepadamu, iya kan Rai?! Jawab aku Raina?!!!
Tolong jangan tinggalkan aku Rai...


“Place and time always on my mind.. I have so much to say but you’re so far away...”
*Avenged Sevenfold – So Far Away*

            Keesokan paginya aku dan keluarga mendatangi rumah Raina yang terpampang bendera kuning. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk memberikan doanya. Disamping peti kayu yang dingin itu aku melihat Om Johan dan Tante Lucy sedang menangisi anak mereka. Terutama Tante Lucy, ia tampak kehilangan dan Om Johan berusaha terlihat tegar sambil menyemangati istrinya.
            Kaki ku tidak mampu bergerak selangkah pun. Rasanya aku tidak sanggup harus melihatnya. Aku tidak berani menghadapi semua ini sendiri. Tapi Avia menggengam tanganku, ia tersenyum padaku seolah memberikan kekuatan kepadaku.

Melihatmu terbujur kaku berhiaskan gaun putih dan bunga yang kau pegang... kau sungguh cantik Rai.. benar-benar seperti malaikat. Setidaknya aku sangat senang karna sebelum kau pergi kau menemuiku lebih dahulu dan menghabiskan waktu bersama denganku..
Tidak ada lagi yang dapat kukatakan Rai. Disatu sisi aku memang kehilanganmu tapi disisi lain aku ingat perkataanmu bahwa aku tidak boleh menderita jika orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku, karena kau sebagai orang yang ku cintai akan selalu ada dihatiku.
Tidurlah dengan damai, bawalah seluruh kenangan kita bersama kepergianmu. Jangan pernah lupakan aku dari hidupmu. Tetaplah berada dihatiku selamanya, karena aku tidak akan pernah menghapusmu dari ingatanku.
Aku yakin Rai, seseorang yang mencintaiku telah menungguku diluar sana.. meskipun aku sekarang belum menemukannya, tapi satu yang pasti bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu...
***
Gadis itu memberikan kecupan lembut yang terakhir di pipi Niko tanpa sepengetahuannya. Ia menangis untuk yang terakhir kalinya dan terbang jauh menembus awan.
“Ko, aku minta maaf karna aku tidak bisa berada disismu selamanya sampai kapanpun seperti perkataanku, tapi aku akan selalu mengawasimu dari atas sini ko...aku akan menyaksikan sendiri kau bersama orang yang benar-benar kau cintai hidup berdampingan...rasanya aku tidak sabar menunggu akan hal itu..selamat tinggal Niko...”

“I hope it's worth it, what's left behind me...
I know you'll find your own way when I'm not with you...”
*Avenged Sevenfold – Fiction*

THE END


Oleh : Bella Danny Justice

YOU ARE MY EVERYTHING




Cerpen Cinta
“kenapa kamu tega menghianati aku Miko ? apa salahku selama 1 tahun kita bersama ? apa ?! katakan padaku Miko !!” aku tak dapat lagi menahan rasa sakit hati yang meluap-luap di dada. Aku tidak peduli jika ia menganggap aku wanita yang cengeng. Aku menangis di hadapannya karena aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya kali ini. Miko, kekasihku yang sudah menghiasi hari-hariku selama 1 tahun kini berhianat dengan wanita lain. Aku tidak tau siapa wanita itu, aku tidak mengenalnya, tetapi Miko sendiri yang mengaku kepadaku kalau ia sudah mengecewakan aku dan meminta padaku untuk mengakhiri hubungan kami karena ia merasa sudah tidak mungkin untuk melanjutkan semuanya ini.

“aku sungguh minta maaf Sharon, tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Maafkan aku...” Miko tidak memberiku kesempatan untuk berbicara, ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu rumahku yang hanya berisikan kami berdua. Tangisku pecah saat mendengar pintu rumahku tertutup. Miko sudah benar-benar pergi, ia tidak akan kembali lagi, ia ternyata serius dengan perkataannya. Aku bodoh sekali telah mempercayainya. Ini semua kesalahanku dan aku layak menerimanya. 
‡‡‡

Aku hanya tinggal dirumah bersama dengan Bi Lastri dan supirku Mas Seno. Orangtuaku selalu sibuk mengurus bisnis di luar kota atau luar negri. Meskipun begitu aku tidak pernah merasa kesepian karena mereka berdua selalu menghibur dan menemaniku. Tentu saja, karena Bi Lastri dan Mas Seno sudah mengasuhku sejak bayi sampai sekarang aku menjadi mahasiswi, aku tetap masih membutuhkan mereka.

Ketika Miko memutuskan hubungan kami aku pun menceritakan semuanya kepada mereka. Aku menangis di pelukkan Bi Lastri wanita paruh baya itu. Ia membelai rambutku dan menenangkan aku seperti anaknya sendiri. Walau Miko tidak mencintaiku tetapi aku beruntung karena masih mempunyai mereka yang menyayangiku. Untuk itu aku berjanji tidak akan terpuruk karena dia.

“loh non Sharon kok belom ganti baju sih ? Tuan sama nyonya udah nunggu di bawah untuk makan malam dari tadi, cepetan ya non abis itu non langsung turun.” Ujar Bi Lastri yang sudah bolak-balik ke kamar untuk mengingatkan aku berulang kali.

“iya iya, bilang sama mama dan papa suruh tunggu ya bi. Aku bentar lagi turun, mau siap-siap dulu.” Kataku lalu menutup pintu kamar dan menguncinya setelah bi Lastri keluar.

Aku rasa aku tidak bisa menepati janjiku, aku rasa aku lebih baik mati daripada tidak bersama Miko. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Diriku hampa tanpa kehadiranya, tanpa senyum manisnya, serta canda tawanya. Sudah 1 bulan aku mengambil cuti kuliah karena aku merasa belum sanggup untuk mengikuti pelajaran mata kuliahku semenjak Miko meninggalkanku.

Dan kini mama dan papaku baru saja kembali dari Manado tadi pagi. Entah mengapa kepulangan mereka kerumah pun tidak bisa menghibur hatiku yang sedang terguncang.

Maafkan aku ma, pa... aku bukan anak yang baik, aku rasa aku tidak bisa makan malam bersama lagi dengan kalian, untuk selamanya... selamat tinggal...

Aku menelan banyak obat tidur yang ada di laci lemari kamarku malam itu. Aku berniat untuk mengakhiri rasa sakit ini. Aku yakin setelah aku meminum semua obat tidur ini aku akan merasa tenang dan rasa sakit itu tidak akan muncul lagi. Beberapa menit kemudian aku merasa tubuhku mati rasa, aku jatuh tergeletak ke lantai dan mengalami kejang-kejang.

Dari luar pintu kamar aku masih bisa mendengar mama dan papaku yang terus mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak dengan cemas. Aku dengar mereka meminta bantuan pada Mas Seno untuk mendobrak pintu kamarku.

Tidak...ma, pa.. kalian jangan masuk... aku tidak ingin kalian menangisi anak kalian yang bodoh ini...

Mataku mulai meredup, perlahan tertutup dan aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu. Aku rasa aku sudah mati ? Ya, baguslah! Rencanaku berhasil! Ucapku dalam hati.
‡‡‡

Harapanku ternyata tidak terkabul. Orangtuaku membawaku ke rumah sakit tepat waktu sehingga aku berhasil diselamatkan. Aku sempat tidak sadarkan diri selama 2 bulan, dan sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit itu. Mama dan papaku tampak terpukul dengan kejadian ini. Mereka menangis begitu mendapati aku tersadar dari koma. Aku sungguh seperti anak durhaka. Aku berdosa kepada mereka berdua dan terutama kepada Tuhan. Bagaimana bisa aku melakukan percobaan bunuh diri hanya karena seorang pria ? maafkan aku Tuhan..

Setelah kejadian itu orangtuaku memutuskan untuk membawaku ke London. Mereka ingin aku melupakan hal-hal yang terjadi di Jakarta dan memulai lembar kehidupan yang baru. Aku menyetujuinya, walaupun aku tau nanti di sana mereka juga tidak selalu hadir untuk menemaniku, tapi setidaknya aku berada di tempat yang baru dan aku harap aku bisa melupakan kenangan pahitku.

Keesokan harinya aku, mama dan papa segera terbang ke London. Aku pasti akan sangat merindukan Bi Lastri dan Mas Seno, tapi ini adalah jalan yang terbaik bagiku. Miko pun tidak pernah memberi kabar sama sekali sejak terakhir kali kami bertemu, padahal aku tetap ingin berteman dengannya, nomernya juga sudah tidak aktif lagi. Aku rasa ini memang saatnya aku untuk melupakannya.

Sesampainya di ibu kota Inggris itu aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur karena Jet lag yang mendera. Ya, ini lah rumah baruku, tempat tinggal baru, dan orang-orang baru yang akan mengisi kehidupanku.

Mama memasuki kamarku dan menghampiri aku yang sedang terbaring di tempat tidur. “Sharon, kamu istirahat yang banyak ya, mama dan papa harus pergi ke Manchester untuk menemui relasi bisnis. Kalau kamu butuh sesuatu minta saja sama Nanny Grace. Oh ya, dia juga bisa berbahasa Indonesia.”

“ya, kalian berdua hati-hati.” ucapku sambil menarik bedcover bermotif bunga mawar itu.

Sendiri lagi... selalu seperti ini, and i’m getting used to it.

Aku menetap di London hanya sampai aku merasa lebih baik saja, aku tidak sungguh-sungguh pindah ke negara ini. Aku mengambil cuti 1 tahun di kampus ku dengan alasan terapi penyembuhan. Istilah “tidak ada tempat yang paling nyaman dari kampung halaman” itu memang benar. Walaupun tinggal di London, aku tetap rindu Indonesia dan aku akan segera kembali sampai aku selesai menata hatiku.

“Sharon, apa kau butuh sesuatu ?” sahut seseorang dari luar kamarku dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu fasih. Ya, itu adalah Nanny Grace.

“tidak, saat ini aku ingin tidur saja. Terimakasih tawarannya Nanny.” Balasku nyaring.

“baiklah. Istirahat yang cukup.” ujarnya.

Aku tidak merasa lelah lagi, justru sekarang merasa bosan. Aku membuka laptopku dan menyolokkan modem ke port usb. Sudah 3 bulan aku tidak membuka akun jejaring sosialku, mungkin ada hal terbaru yang tidak ku ketahui.

“maafkan aku meninggalkanmu, sekarang kau pasti membenciku. Tidak apa, itu justru yang aku inginkan karena aku memang tidak pantas mendapatkan wanita yang sangat baik sepertimu.. aku hanya seorang pengecut, i’m so sorry Ser..” 3 months ago.

Ketika membuka akun facebook-ku, itulah hal pertama yang aku liat di beranda. Itu adalah status yang ditulis Miko 3 bulan yang lalu. Karna penasaran aku pun membuka profilenya secara keseluruhan. Entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat 2 kali lipat dari sebelumnya. Begitu tampilan facebook Miko terpampang lengkap di depan kedua bola mataku aku tidak dapat berkata sedikitpun. Aku hanya menggigit bibir bagian bawahku, menahan agar aku tidak menangis ketika membaca semua statusnya.

“sepertinya harapanku sudah sirna, kalau memang dia sudah melupakan aku dan bahagia bersama dengan orang lain, aku pun akan berusaha untuk bahagia.” 15 minutes ago.


“ini membuatku tersiksa, aku tidak sanggup lagi..” 1 day ago.


“aku harap dia tidak membuka akun facebooknya, kalau ya, aku benar-benar akan sangat malu.” 2 days ago.


“it’s so cold without you by my side, i’m sorry to hurt such an angle like you. You are my everything.” 4 days ago.


“you must be hate me so much.” 2 weeks ago.


“if only i could tell you the truth, would you still love me ?” 1 month ago.

Yang benar saja ?! apa kau benar-benar menulis semua status ini Miko ? tapi kenapa ? apa alasanmu melakukan ini semua terhadapku ? ternyata kau tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi meninggalkanku ?! lalu mengapa kau berbuat seperti itu ?? aku tidak mampu menahan cairan hangat itu keluar dari mataku, aku merasa sangat senang usai membaca semua statusnya, namun aku juga merasa sedih karena dulu ia tidak mau jujur kepadaku.

Beberapa saat aku menangisi hal itu lalu aku tersadar kalau kepergianku ke London adalah untuk menghapus kenangan pahitku. Ya! aku harus melupakan Miko! Lagipula sudah terlambat bagiku jika sekarang aku ingin berharap dia masih mencintaiku. Dari status yang ditulisnya 15 menit yang lalu dapat disimpulkan bahwa ia akan melupakanku cepat atau lambat, dan aku harus merelakan itu.
‡‡‡

Hanya 1 bulan aku berada di London dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku rasa aku sudah menata dengan benar hatiku. Aku yakin sudah tidak ada lagi perasaanku yang tersisa untuk Miko, mantan kekasihku yang dulu meninggalkanku. Meskipun aku tau kebenarannya, tapi itu sudah terlambat. Semuanya sudah berakhir...

“Sharon, are you really leaving ? please just stay with me..” pria bertubuh jangkung itu memelukku dengan erat. Ya, dia adalah Kieran, aku mengenalnya saat berkunjung ke perpustakaan umum di London ketika aku merasa down setelah mengetahui yang sebenarnya tentang Miko. Dia bekerja di sana, dia mengajakku berkenalan dan makan malam. Sebenarnya aku mulai sedikit menyukai laki-laki tampan berambut coklat itu, tapi aku harus pergi. Aku harus melanjutkan studiku di Indonesia yang sudah terbengkalai karena kejadian-kejadian yang terjadi belakangan ini.

Aku mengendurkan pelukannya perlahan. “i want it, but i can’t, i have to go now. Don’t be sad Ki, i’ll visit you right away. Goodbye..” Ucapku sambil menyunggikan senyum manis kepada Kieran.

Aku bersiap menggaet sebuah tas travel berukuran sedang dan koper besar. Tetapi saat aku akan membelokkan tubuhku untuk pergi dari sana tiba-tiba saja Kieran meraih pergelangan tanganku dan menariknya sehingga tubuhku berputar 180 derajat. Wajahku tepat di depan wajahnya dan sangat dekat, aku memandang mata birunya penuh tanda tanya. Kieran semakin mendekatkan wajahnya kearahku, ia menundukan kepalanya sedikit lalu dalam sekejap ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirku yang membuatku tak bisa berkata apa-apa.

Kieran melepaskan genggamannya lalu berkata. “sorry if you don’t like it, but that’s our farewell kiss. I’ll be missing you Sharon..”

“thank you Kieran.” Ucapku lalu melangkah pergi dari sana. Kieran, dia satu-satunya pria yang mampu membuatku ragu untuk pergi dari London, tetapi aku tetap harus kembali ke Indonesia. Aku tidak akan melupakanmu Ki. Terimakasih kau sudah hadir dalam hidupku...
‡‡‡

Saat aku sudah menempati tempat duduk ku di pesawat, entah mengapa aku ingin membuka handphone dan melihat facebook-ku kalau-kalau ada seseorang yang menulis sesuatu di wall-ku.

Benar saja dugaanku, ternyata ada seseorang me-wall-ku. Dia teman SMA-ku dulu Flavia :

“oh my God! I really miss you Sharon!! It’s been so long, let’s meet up dear.” 6 hours ago.

“please turn off your cell phone because the plane will be taking off in a few minutes.” Ujar pramugari tersebut yang memperingatkan aku karena terlihat masih asik memegangi benda mungil itu.

“oh, ok.” Jawabku singkat.

Cepat sekali pesawat ini akan lepas landas. Aku pun bergegas log off dari facebook-ku, tapi aku sengaja kembali ke beranda. Dan hal itu membuatku terkejut! Aku melihat Miko baru saja mengupdate statusnya :

“going back to Indonesia from London, i can’t stand my dad anymore. I need to meet you! I have to tell you the truth.. hope you could understand.” Just now.

Apa ?! ternyata dia selama ini ada di London ?! dan sekarang ia sedang kembali ke Indonesia ?!

Ini benar-benar mengagetkan untukku. Aku berdiri dan mencari-cari sosok Miko. Aku duduk di bagian tengah, jadi aku harus mengecek ke bagian depan dan ke belakang supaya menemukannya. Namun beberapa saat mencarinya aku tidak mendapatkan Miko di bangku deretan depan maupun belakang. Dengan menghela nafas panjang aku pun kembali ke tempat dudukku.

Aku sedikit terkejut karena ketika aku kembali ke bangku ku aku mendapati tas besar milik seseorang ada di sampingku. Padahal sebelumnya aku tidak melihat tas itu, tiba-tiba saja benda itu muncul.

Aku duduk diam, memejamkan mata dan memasang headphone menyetel musik rock kencang-kencang. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa karena tidak dapat menemukan Miko dan seharusnya aku juga tidak perlu mencari pria itu, karena aku harus melupakannya.

Akhirnya pesawat pun lepas landas, hanya tinggal hitungan detik saja tapi orang yang duduk di sampingku tak kunjung datang. Apa dia belum pernah naik pesawat sebelumnya? Gumamku dalam hati.

“excuse me miss..” ucap seseorang dengan nafas yang bergemuruh seperti di kejar hantu. Ya, pasti orang itu!

“it’s ok, no...” saat aku melepaskan headphone dan membuka kedua mataku, aku tak berkutik dan bibirku tak bergerak sedikit pun memandang orang tersebut.

“Sharon ?” ucapnya dengan nada setengah tak percaya.
‡‡‡

Sungguh sebuah hadiah yang tak terduga bagiku. Aku satu pesawat dengan Miko dan tempat duduk kami pun bersamaan. Meskipun begitu aku tidak membuka mulut. Aku mengunci bibirku rapat-rapat dan berusaha bersikap acuh terhadapnya.

“maafkan aku Sharon... sekarang aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Aku harap kau bisa mengerti.” Kata Miko yang membuka pembicaraan di tengah keheningan kami selain suara pesawat yang sedikit bising terdengar.

Aku tidak memandangnya, aku hanya membalas ucapannya. “aku sudah tau semuanya, aku sudah baca semua statusmu. Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan.”

“masih ada yang belum kau ketahui Sharon dan aku harus mengatakannya. Tolong izinkanlah aku menjelaskannya padamu.” Nada yang memelas itu membuat hatiku luluh. Rupanya aku belum bisa menata hatiku, rupanya aku masih menyukainya.

“katakanlah apa yang ingin kau katakan.” Ucapku berharap terdengar cuek.

“aku meninggalkanmu karena papaku memaksaku untuk belajar mengurus perusahaannya, itu ia lakukan karena menurutnya aku lah satu-satunya pewaris perusahan yang ideal. Dia tidak mau kakakku Tommy yang menjadi pewaris perusahaan karena baginya Tommy hanya akan memperburuk keadaan keuangan perusahaan yang sedang goyah saat ini. Karena itu aku beralasan kepadamu bahwa aku telah menghianatimu, tapi kenyataannya aku sama sekali tidak pernah melakukan itu Sharon. Aku sangat mencintaimu, tetapi di lain sisi aku juga tidak bisa menolak permintaan papaku. Tolong cobalah mengerti keadaanku Sharon, aku tidak pernah berniat untuk melukai perasaanmu sedi...” Miko terus saja berbicara dan itu membuat telingaku panas. Aku tidak bisa untuk tidak memaafkannya apalagi karena alasannya sangat kuat seperti itu.

Aku pun memotong perkataannya. “lalu kenapa kau kembali ? aku melihat status mu, kau bilang kau tidak tahan dengan papamu.” Kini aku mulai menatapnya, aku memberanikan diri memandang wajahnya. Dia tidak berubah, masih sama seperti dulu... sangat tampan..

Miko tertunduk sejenak, ia menggengam tanganku dan kembali berkata. “sebenarnya urusanku di London belum selesai Sharon, tetapi aku sudah tidak tahan lagi karena rasa bersalah yang terus menghantui diriku. Aku ingin kau tau semuanya, dan aku tidak ingin kau membenciku karena aku sangat menyayangimu.”

“jangan bicara lagi. Aku mencintaimu Miko. Dan aku tidak pernah bisa membencimu.” Aku langsung memeluk Miko saat itu juga. Rasanya aku rindu sekali dengan pria ini. Kalaupun aku ingin, aku tidak bisa membenci Miko. Aku bingung mengapa bisa seperti itu. Tapi satu yang pasti aku sangat senang bisa bersama lagi dengannya.

You are my everything, no one will be able to replace you from my heart...
You mean the world to me...
You’re the apple of my eye...

THE END


Oleh : Bella Danny Justice